Sains, Teknologi, Seni dan Budaya

Beberapa bulan yang lalu lakon ini pernah terbit, karena kesalahan pemilihan sumber audio untuk proses converting maka hasil tidak memuaskan dan saya tarik dari peredaran. Mudah-mudahan hasil yang sekarang lebih baik dari yang lalu….ya…namanya baru belajar…….
Sekali lagi terima kasih kepada mas Suwardito (Rawamangun) yang telah menyumbangkan cerita ini untuk disebarkan ke sutrisno Ki Narto Sabdho.

Sebuah tulisan yang saya ambil dari tetangga sebelah mungkin bisa menggambarkan sang Kumbakarna.

Kumbakarna dan Wibisana, Sebuah Perspektif Tentang Nasionalisme
aramichi (Minggu, 26 Apr ’09 18:54) dari http://politikana.com

Kumbakarna, raksasa yang doyan makan dan tidur tiba tiba bangun dari tidurnya ketika negaranya diserang kekuatan asing. Kumbakarna melawan pasukan Rama yang ternyata didukung oleh Wibisana adiknya sendiri. Kumbakarna sadar Rahwana salah, sejak semula dia tidak setuju ketika Rahwana menculik Sinta, wanita yang sudah menjadi istri orang. Kumbakarna sadar Rahwana telah melakukan blunder, mengorbankan rakyatnya demi seorang wanita cantik jelita bin bohay binti semlohai, Sinta. Kumbakarna sadar Rama ada di pihak kebenaran dan takdir sudah menggariskan kebenaran harus menang, takdir para dewa sudah menggariskan kebatilan harus hancur dengan korban berapapun. Melawan Rama sama saja bunuh diri karena pasti kalah. Semua yang berpihak kepada kebatilan dengan motivasi apapun pasti tergilas. Kumbakarna seorang ksatria, seorang prajurit yang ikhlas menjemput takdirnya, dia berperang bukan demi membela Rahwana, kakaknya. Kumbakarna bukan berperang untuk membela kebatilan. Ketika Ibu Pertiwi memanggil, Kumbakarna memilih meletakkan tugas dan kewajibannya di atas hati nuraninya. Kumbakarna berperang demi negaranya….Alengka.

Perang memang kejam dia tidak mengenal saudara, Wibisana dan Kumbakarna harus berhadapan bukan karena posisi yang berbeda, Wibisana dan Kumbakarna berhadapan karena strategi dan pilihan yang berbeda. Kumbakarna dan Wibisana dua- duanya pro pada kebenaran dan sama- sama tidak setuju dengan aksi ugal- ugalan Rahwana yang semena- mena menculik istri orang. Wibisana memilih berkoloborasi dengan kekuatan asing dengan harapan ketika Rahwana jatuh kekuasaan angkara murka bisa berakhir dan kebajikan bisa berkuasa. Kumbakarna sebaliknya dia memilih melawan kekuatan asing itu karena panggilan tugas dan kewajibannya. Salahkah Kumbakarna dengan nasionalismenya? Siapakah yang benar apakah Kumbakarna atau Wibisana?

Yang sulit adalah mengetahui motivasi seseorang, motivasi atau niat menjadi rahasia yang paling terdalam, begitu jauh di relung hati sehingga kadang kita sebagai manusia hanya dapat menerka dari implikasinya. Kumbakarna melawan Rama disimpulkan Kumbakarna melawan kebenaran yang datang. Kumbakarna berada di pihak Rahwana dinilai pasti ini orang pro kebatilan, pro penculik istri orang. Apalagi wajah Kumbakarna kebetulan tidak tampan, boleh dikatakan jelek tambah lagi poin negatifnya ditambah kerjanya hanya makan dan tidur saja. Kita sulit melihat kebaikan orang karena selalu melihat dari kelompok mana orang itu berasal. Fakta- fakta bahwa Kumbakarna sudah mengingatkan Rahwana dan menentang aksi menculik istri orang terabaikan atau tidak diketahui karena kita sudah terlanjur menganggap Kumbakarna melawan Rama dan berada di pihak Rahwana. Ketidakmampuan melihat fakta yang saling bertolak belakang menyebabkan kegagalan kita dalam memahami seseorang. Akhir tragis seorang patriot Tanah Air yang telah memilih. Tergilas, dibenci dan terlupakan….

Untuk dapat menikmati cerita ini silahkan diklik DISINI

Comments on: "Ki Narto Sabdho: Kumbakarna Lena" (2)

  1. boedi soetanto said:

    Nuwun sewu, nyuwun pirsa file Kumbakarna Lena nomer 7B menapa pancen mboten wonten?

    matur nuwun

    • listantoedy said:

      Mas Budi coba cek ulang ya…dan file2-nya di link ini dengan kualitas bagus banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: