Sains, Teknologi, Seni dan Budaya

Ulasan: Mas BRAM PALGUNADI

Prabu Boma Nara Sura (saya menyebutnya begitu, dan bukannya Prabu Boma Narakasura, karena artinya sangat berbeda), menikah dengan Dewi Hagnyanawati (yang merupakan titisan Bathari Dermi) dalam suatu pesta pernikahan agung di Kerajaan Trajustrisna. Pernikahannya yang baru seumur jagung itu tidak lancar, karena datang pihak lain, yaitu Radyan Samba (adik Prabu Boma Nara Sura) yang ternyata merupakan titisan Bathara Derma. Radyan Samba yang tiba-tiba jatuh cinta kepada kakak iparnya, menjadi penyebab utama rusaknya pernikahan Prabu Boma Nara Sura. Cerita cinta yang sangat dramatis ini, berakhir dengan kematian ketiganya, Prabu Boma Nara Sura, Radyan Samba, dan Dewi Hagnyanawati. Bathara Derma dan Bathari Dermi, merupakan kakak-adik, keduanya putra dan putri Bathara Endra. Tetapi mereka berdua dikutuk oleh ayahandanya, karena berbuat nista dengan melakukan hubungan badan seperti suami-isteri (incest) antar saudara kandung. Setelah dikutuk, sukma Bathara Derma, menitis kepada Radyan Samba. Sedangkan sukma Bathari Dermi menitis kepada Dewi Hagnyanawati. Soal ‘menitis’ ini jugalah yang sebenarnya membuat peristiwa pernikahan Prabu Boma menjadi gagal dan runyam.

Boma

Ki Narto Sabdho almarhum, dalam suatu pertemuan di tempat tinggal beliau (sekitar tahun 1976), di Jl. Anggrek, Semarang, menyatakan bahwa beliau sangat suka menampilkan lakon yang sangat dramatis ini, yang oleh publik sering dikenal dengan sebutan lakon ‘Samba Juwing’, ‘Gojali Suta’, atau ‘Boma Gugur’. Dalam suatu pagelaran wayang kulit purwa di Jakarta (sekitar tahun 1977), saya pernah menyaksikan bagaimana sekitar 20 ribu penonton menangis terisak-isak sepanjang malam, saat menyaksikan pagelaran ‘Samba Juwing’ yang dibawakan oleh Ki Narto Sandho almarhum.

Bagi saya dan Ki Narto Sabdho, tokoh Prabu Boma Nara Sura bukanlah tokoh jahat seperti cerita aslinya, tetapi lebih merupakan korban dari kekuasaan, martabat, dan kehormatan semu sebuah keluarga besar. Bahkan Prabu Boma gugur di tangan ayahandanya sendiri. Ada juga versi lain yang menyatakan bahwa Prabu Boma sebenarnya tidak mati, tetapi ia diselamatkan dan diambil oleh kakeknya Bathara Naga Raja dan dibawa ke kahyangan. Saat itulah Bathara Naga Raja mengutuk Prabu Kresna, yang telah berusaha membunuh anak kandungnya sendiri. Kutukan Bathara Naga Raja berlaku dan berakibat Prabu Kresna sukar matinya. Dan, saat mati pun begitu tidak terhormat, dan sangat sepele, ia mati terbunuh karena sebuah kecelakaan, yang disebabkan oleh kecerobohan seorang tukang kayu.

Rekaman pagelaran wayang yang sangat dramatis ini, dilakukan pada sekitar tahun 1970-an, pada masa keemasan Ki Narto Sabdho almarhum.

Baca juga artikel pendek tentang Boma pada situs di bawah ini….

1) Riwayat-boma-nara-sura-dan-para-ksatria-yang-berperi-laku-candhala-dan-nistha

2) Kronik-dan-intrik-di-antara-boma-nara-sura-gathutkaca-dan-kresna

Kepada seluruh sahabat kinasih pecinta pagelaran wayang kulit purwa, selamat menikmati pagelaran wayang yang berasal dari masa lampau ini……

MONGGO diKLIK mriki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: