Sains, Teknologi, Seni dan Budaya

Archive for the ‘Cerita Ramayana’ Category

Rama Tundung (Ramayana I); Ki Nartosabdho

Lakon ini pernah diunggah di wayangprabu maupun di blog ini dan lakon ini merupakan sumbangan dari mas Mustafa (Citayam-Depok). Setelah aku cek via Sony Sound Forge ternyata file2 tersebut dalam kondisi MONO. Nah dengan bantuan software tersebut saya rubah menjadi 2 CHANNEL (pseudo-STEREO).

Adapun ringkas cerita dapat disimak di bawah ini: (Sumber: http://wayang.wordpress.com)

Setelah memboyong Dewi Sinta, putri Mantili, sebagai istrinya ke Kerajaan Ayodya, ayah Rama, yaitu Prabu Dasarata berniat mengangkatnya sebagai raja.

Namun niat Dasarata ini dihalangi Dewi Kekayi, istri ketiga sang Prabu. Dasarata diingatkan bahwa raja itu pernah berjanji akan meluluskan dua permintaan Dewi Kekayi.

Adapun permintaan Kekayi adalah agar Dasarata mengangkat Barata, anaknya, sebagai raja. Yang kedua, mengusir Ramawijaya dari Kerajaan Ayodya dan harus hidup sebagai orang buangan di Hutan Dandaka selama 14 tahun. Kepergian Rama dan Sinta diikuti oleh Laksmana, adik tirinya.

Walaupun tidak setuju, Prabu Dasarata terpaksa memenuhi tuntutan itu. Setelah membatalkan pengangkatan Ramawijaya sebagai putra mahkota dan mengusirnya bersama istrinya, raja Ayodya itu sangat menyesal, sehingga meninggal dunia. Ternyata Barata tidak mau naik takhta menggantikan ayahnya, bahkan menyusul Rama dan Laksmana di Hutan Dandaka.

Setelah bertemu, Rama menganjurkan Barata menjadi raja, dengan membekalinya ajaran Hasta Brata.

Untuk dapat menikmati lakon tersebut monggo kula aturi mundut File2-ipun ING MRIKI

Pethilan2 Goro-goro_Ki Nartosabdho

Sekuel Goro2 dibawah ini merupakan sumbangan dari mas Rumlan Dwiyatno. Goro2 ini dipethil dari lakon2 yang sudah ada di WP atau blog ini.

Kangge poro sutresno KNS, monggo kula aturi mundut ing link2 ngandap:

1. Goro2 Cakraningrat dapat diambil di sini

2. Goro2 Dasamuka Lahir saget kapundut ing mriki

3. Goro2 Sri Makhuta Rama bisa diunduh DI SINI

4. Goro2 Alap2an Setyaboma saget dipethik ING MRIKI

5. Goro2 Duryudana Gugur bisa di-download Di SINI

6. Goro2 Karno Tanding dapat diunduh DI SINI

Ki Purbo Asmoro “Melik Nggendong Lali”

Pentas wayang kulit dengan lakon “Melik Nggendong Lali” oleh dalang lain disebut “Alap2an Sukesi” dalam bentuk Video yang diselenggarakan di TBS Solo, 23-4-2005 ini hasil unggahan Asisten Ki Purbo Asmoro (Ms. Kitsie Emerson-Michigan USA). Rekaman ini sebagai tanda kenang2an Ki Purbo pada http://wayangprabu.com serta pihak2 yang ikut serta melestarikan budaya khususnya para PENGGEMAR KI PURBO ASMORO.

Untuk dapat menikmati Videonya silahkan dilihat di link berikut:

http://www.youtube.com/p/3F1E7BB4B4717F93?hl=en_GB&fs=1

Ki Bayu Aji Pamungkas

Pagelaran Wayang Kulit Dalang Ki Bayu Aji Pamungkas Hasil convert dari mas Totok-Pati dengan Lakon:

1. Kumbokarno Gugur, Live Sedekah Bumi & Sedekah Laut, Desa Bendar, Juwana, kab. Pati, tgl. 17 September 2010 saget kaunduh ING MRIKI

2. Gondomono Luweng, Live Sedekah Bumi & Sedekah Laut, Desa Bendar, Juwana, kab. Pati, tgl. 26 September 2009 saget kaunduh ING MRIKI

Kumbakarna Lena (Ki Nartosabdho)

Lakon ini adalah lakon menjelang berakhirnya brubuh Ngalengka. Lakon ini dibawakan oleh sang Maestro Ki Nartosabdho dengan iringan karawitan Condong Raos. Lakon ini sumber aslinya dari mas Suwardito (Rawamangun). Dulu pernah diunggah di blog ini ataupun di Wayangprabu.com dan waktu itu masih banyak bikin kecewa para sutresno Ki Nartosabdho. Saat ini saya berusaha untuk mengconvert ulang…mudah2an hasilnya lebih baik daripada yang dulu. Untuk ringkasan cerita…kulo aturi sumonggo sinten kemawon saged caos narasinipun.

Untuk dapat menikmati cerita tersebut kula aturi klik
Wonten Mriki

Wayang Kulit Ki Narto Sabdho

Berikut lakon-lakon yang baru muncul:

1. Resi Manumanasa
2. Pendawa Dadu
3. Kalabendana Gugur atau Gendreh Kemasan
4. Wahyu Cakraningrat
5. Brajadenta mbalelo
6. Rama Nitis
7. Udawa Sayembara

Ki Narto Sabdho; Rama Nitis

Kisah ini merupakan cerita pergantian dari serial Ramayana ke Mahabarata. Lakon ini dikenal dengan judul Rama Nitis dan di bawah ini dikaisahkan oleh dalang legendaris Alm. Ki Nartosabdho dan merupakan koleksi dari mas Imam (Garut). Berikut adalah sepenggal kisahnya:

Darmakusuma duduk dihadap oleh Kresna, Wrekodara, Nakula, Sadewa, Samba dan Satyaki. Mereka membicarakan nasib Gathotkaca. Tiba-tiba Gathotkaca jatuh dari angkasa. Mengerang kesakitan, ia merangkak menghadap raja Darmakusuma. Kemudian Harjuna datang. Raja meminta agar Arjuna segera menolong Gathotkaca. Arjuna pun mengambil anak panah yang bersarang di perut Gathotkaca dengan anak panah pula. Maka Gathotkaca sembuh kembali.
Kresna ingat perjanjian yang diberikan oleh Ramawijaya dan Lesmana. Ia lalu minta ijin pergi bersama Arjuna ke Pancawati.
Di Pancawati, Ramawijaya, Lesmana dan Sugriwa tengah menanti kedatangan Anoman. Kemudian Anoman datang bersama Resi Brangtalaras. Ramawijaya minta kesediaan sang resi untuk menyembuhkan penyakit Sinta. Sang resi mendekati Sinta. Setelah diusap dahinya, sembuhlah penyakit Sinta. Lalu Sinta diserahkan kepada Ramawijaya. Resi Brangtapernali datang menghadap Ramawijaya. Dalam pertemuan itu Ramawijaya ingin menghadiahkan kerajaan Pancawati kepada Resi Brangtalaras sebagai upah pengobatan. Maka Resi Brangtalaras pun menjadi raja, sedangkan Resi Brangtapernali menjadi patihnya.
Raja Brangtalaras duduk di balai penghadapan, kemudian Cocakrawun datang menghadap, melapor kedatangan musuh dari Ngamarta. Patih Brangtapernali diminta menyambut kedatangan musuh. Maka Patih Brangtapernali terjun perang melawan warga Pandhawa. Ternyata Wrekodara, Arjuna Gathotkaca dan Satyaki tidak mampu melawan amukan Brangtapernali. Kresna segera datang menolong, dan senjata Cakra dilepaskan. Terkena Cakra, Brangtapernali berubah menjadi Srikandi. Raja Brangtalaras datang bersama Sinta. Kemudian Kresna melepaskan cakra. Terpanah Cakra, Brangtalaras berubah menjadi Sumbadra. Sedangkan Sinta lenyap setelah dicakra, menyatu dalam tubuh Sumbadra.
Bathara Guru, Bathara Narada, Bathara Panyarikan, Sambu dan Korawa berunding di Kahyangan. Bathara Guru menugaskan Bathara Narada supaya turun ke Marcapada. Anoman disuruh bertapa di Kendalisada, Wibisana diminta memerintah negara Singgela, sedangkan raja Sugriwa dan prajuritnya diminta agar masuk ke api korban, masuk ke Nirwana. Bathara Narada pun turun ke Marcapada.
Ramawijaya, Lesmana, Wibisana, Sugriwa, Anoman dan Anggada berbicara tentang persahabatan mereka dengan raja Brangtalaras dan Brangtapernali. Tengah mereka berbicara, datanglah Cocakrawun yang memberi tahu bahwa Brangtalaras dan Brangtapernali hilang di medan perang. Demikian juga Sinta.
Ramawijaya marah, lalu pergi ke medan perang. Kresna menyambut kehadiran Ramawijaya. Terjadilah perkelahian, tetapi tidak ada yang kalah. Ramawijaya ingat, pernah berjanji akan bersatu dengan manusia jelmaan Wisnu. Maka Ramawijaya bersatu dengan Kresna. Lesmana membela Ramawijaya, lalu berperang melawan Arjuna. Akhirnya Lesmana menyatu bersama Arjuna. Ternyata Arjuna tidak sanggup bersatu dengan Lesmana sehingga Lesmana dilepas dan menjelma ke dalam Baladewa. Tapi kemudian Lesmana lepas dari Baladewa, dan ingin menjelma kembali pada Arjuna. Arjuna sanggup menerima, tetapi menolak sikap wadatnya.
Anoman bergulat dengan Gathotkaca. Bathara Narada datang melerai, Anoman disuruh bertapa di Kendhalisada. Kemudian Bathara Narada menemui Wibisana dan menyuruh supaya menjaga negara Singgela. Setelah damai, semua perajurit dan warga Pandhawa oleh Kresna diminta kembali ke Ngamarta.
Raja Darmakusuma dihadap oleh Kresna, Wrekodara, Arjuna, Nakula, Sadewa, Gathotkaca dan Satyaki. Mereka menyambut kehadiran Sumbadra dan Srikandi.
Sugriwa dan prajurit kera yang setia datang menyerang kerajaan Ngamarta. Wrekodara, Gathotkaca dan Satyaki ditugaskan mengusir perajurit kera itu. Sang Hyang Narada datang menemui perwira prajurit kera. Mereka dikumpulkan kemudian disuruh masuk ke perapian agar masuk nirwana. Kera-kera kecil banyak yang mati oleh prajurit Ngamarta yang dipimpin oleh Wrekodara.
Kerajaan Ngamarta telah aman dan tenteram. Raja Darmakusuma mengadakan pesta besar bersama warga Pandhawa.
R.S. Subalidinata
(sumber cerita: Cerita Rama Nitis. KGPAA Mangkunagara VII. Serat Padhalangan Ringgit Purwa Jilid XXXVII. Batawi Centrum: Bale Pustaka, 1932,L.21-24)

Untuk mendapatkan cerita utuhnya monggo:

Selamat Menikmati

Ki Narto Sabdho: Dasamuka Lahir (Sastrajendroyuningrat)

Lakon ini beberapa waktu yang lalu pernah saya posting di WP, tapi karena sumbernya waktu itu tidak lengkap maka kali ini saya coba posting lagi dengan versi lengkapnya. lakon ini masih sumbangan dari mas Mustafa (Citayam-Depok).

Ringkasan Cerita:


Cerita ini dapat juga disebut sebagai cerita Alap-alap Sukesi atau lahirnya Rahwana sampai Sarpakenaka. Merupakan petikan babad Lokapala yang di dalamnya mengandung mutiara yang sangat berharga. Kerajaan Lokapala pada waktu itu diperintah oleh Danaraja atau Danapati yang belum mempunyai permaisuri. Karena itu ia ingin memasuki sayembara perang melawan Jambu Mangli kemenakan Prabu Sumali Raja dari negara Alengka yang kalau menang dapat mempersunting Dewi Sukesi putri Sumali Raja. Sebelum Danapati berangkat, ayahnya yang bernama Begawan atau Resi Wisrawa datang, menyanggupkan diri menyelesaikan persoalan tersebut karena Sumali raja adalah teman baik dari Wisrawa.

Pada waktu yang bersamaan, Prabu Wisamarta dari Negara Madiantara juga melawat ke Alengka dengan maksud yang sama. Di tengah jalan, wadia bala Madiantara terlibat perang dengan balatentara Lokapala yang menjaga wilayahnya. Sehingga, wadia Madiantara mengambil jalan yang lain, akhirnya Wisamarta kalah dengan Jambu Mangli. Dalam perjalanan ke Alengka, Begawan Wisrawa bertemu dengan Prabu Partakusuma dari Medanggiri. Setelah diketahui maksud masing2 yang tunggal tujuan, terjadilah perang, akhirnya Partakusuma lari. Mengingat betapa berat bahaya yang dihadapi Negara Alengka, maka oleh Sumali Raja Sukesi disyogakan untuk menerima pinangan dari salah satu di antara para raja yang telah melamarnya. Dalam hal ini, Sukesi menyatakan bahwa ia hanya mau menikah dengan seorang yang dapat membeberkan wedaran Sastra Jendra Yuningrat Pangruwating Diyu. Kemudian datanglah Wisrawa dan terbukti Wisrawa dapat memenuhi persyaratan Sukesi. Karena peristiwa tersebut, menurut Hyang Guru …Wisrawa harus menerima pameleh (bhs. Jawa). Hyang Guru manunggal dengan Wisrawa dan Dewi Uma dengan Sukesi. Karenanya Sukesi jatuh hati pada Wisrawa walaupun berulang diingatkan bahwa Wisrawa adalah calon mertuanya.

Syahdan, Bagaimana klimaks dari Lakon ini, Bagaimana pula jalan yang ditempuh oleh Danapati terhadap orang tuanya?

Monggo sami dipun nikmati:

Wonten Mriki

Ki Narto Sabdho: Kumbakarna Lena

Beberapa bulan yang lalu lakon ini pernah terbit, karena kesalahan pemilihan sumber audio untuk proses converting maka hasil tidak memuaskan dan saya tarik dari peredaran. Mudah-mudahan hasil yang sekarang lebih baik dari yang lalu….ya…namanya baru belajar…….
Sekali lagi terima kasih kepada mas Suwardito (Rawamangun) yang telah menyumbangkan cerita ini untuk disebarkan ke sutrisno Ki Narto Sabdho.

Sebuah tulisan yang saya ambil dari tetangga sebelah mungkin bisa menggambarkan sang Kumbakarna.

Kumbakarna dan Wibisana, Sebuah Perspektif Tentang Nasionalisme
aramichi (Minggu, 26 Apr ’09 18:54) dari http://politikana.com

Kumbakarna, raksasa yang doyan makan dan tidur tiba tiba bangun dari tidurnya ketika negaranya diserang kekuatan asing. Kumbakarna melawan pasukan Rama yang ternyata didukung oleh Wibisana adiknya sendiri. Kumbakarna sadar Rahwana salah, sejak semula dia tidak setuju ketika Rahwana menculik Sinta, wanita yang sudah menjadi istri orang. Kumbakarna sadar Rahwana telah melakukan blunder, mengorbankan rakyatnya demi seorang wanita cantik jelita bin bohay binti semlohai, Sinta. Kumbakarna sadar Rama ada di pihak kebenaran dan takdir sudah menggariskan kebenaran harus menang, takdir para dewa sudah menggariskan kebatilan harus hancur dengan korban berapapun. Melawan Rama sama saja bunuh diri karena pasti kalah. Semua yang berpihak kepada kebatilan dengan motivasi apapun pasti tergilas. Kumbakarna seorang ksatria, seorang prajurit yang ikhlas menjemput takdirnya, dia berperang bukan demi membela Rahwana, kakaknya. Kumbakarna bukan berperang untuk membela kebatilan. Ketika Ibu Pertiwi memanggil, Kumbakarna memilih meletakkan tugas dan kewajibannya di atas hati nuraninya. Kumbakarna berperang demi negaranya….Alengka.

Perang memang kejam dia tidak mengenal saudara, Wibisana dan Kumbakarna harus berhadapan bukan karena posisi yang berbeda, Wibisana dan Kumbakarna berhadapan karena strategi dan pilihan yang berbeda. Kumbakarna dan Wibisana dua- duanya pro pada kebenaran dan sama- sama tidak setuju dengan aksi ugal- ugalan Rahwana yang semena- mena menculik istri orang. Wibisana memilih berkoloborasi dengan kekuatan asing dengan harapan ketika Rahwana jatuh kekuasaan angkara murka bisa berakhir dan kebajikan bisa berkuasa. Kumbakarna sebaliknya dia memilih melawan kekuatan asing itu karena panggilan tugas dan kewajibannya. Salahkah Kumbakarna dengan nasionalismenya? Siapakah yang benar apakah Kumbakarna atau Wibisana?

Yang sulit adalah mengetahui motivasi seseorang, motivasi atau niat menjadi rahasia yang paling terdalam, begitu jauh di relung hati sehingga kadang kita sebagai manusia hanya dapat menerka dari implikasinya. Kumbakarna melawan Rama disimpulkan Kumbakarna melawan kebenaran yang datang. Kumbakarna berada di pihak Rahwana dinilai pasti ini orang pro kebatilan, pro penculik istri orang. Apalagi wajah Kumbakarna kebetulan tidak tampan, boleh dikatakan jelek tambah lagi poin negatifnya ditambah kerjanya hanya makan dan tidur saja. Kita sulit melihat kebaikan orang karena selalu melihat dari kelompok mana orang itu berasal. Fakta- fakta bahwa Kumbakarna sudah mengingatkan Rahwana dan menentang aksi menculik istri orang terabaikan atau tidak diketahui karena kita sudah terlanjur menganggap Kumbakarna melawan Rama dan berada di pihak Rahwana. Ketidakmampuan melihat fakta yang saling bertolak belakang menyebabkan kegagalan kita dalam memahami seseorang. Akhir tragis seorang patriot Tanah Air yang telah memilih. Tergilas, dibenci dan terlupakan….

Untuk dapat menikmati cerita ini silahkan diklik DISINI

Ki Narto Sabdho: Rama Tundung (Ramayana I)

Lakon ini merupakan sumbangan dari mas Mustafa (Citayam-Depok) yang dibawakan oleh dalang kesayangan kita dan sebagai maestro dalang di Indonesia Ki Narto Sabdho. Lakon ini merupakan cerita pucuk dari serial Ramayana yang penuh dengan nuansa cinta kasih dan pengurbanan sebagai seorang tokoh titisan Betara Wisnu.

Rama-Shinta

Awal cerita dimulai dari Negara Ayodya yang saat itu diperintah oleh prabu Dasarata dan memiliki istri 3 orang dan turunan 3 orang (Regawa/Rama, Lesmana Widagdo dan Barata). Semula keadaan ayem tentram dan sang raja pingin tahtanya dilengser ke keturunannya si Rama dengansyarat harus kawin dulu. Tapi kenapa pada judul ini disebut RAMA TUNDUNG…….kenapa Rdn Rama harus pergi dari Ayodya? Bagaimana dengan kelanjutan pemerintahan Negara tersebut? Bagaimana nasib Rd Rama selanjutnya dengan istrinya (Shinta)?…..Nah, untuk lebih gambalangnya cerita tersebut….alangkah baiknya untuk menikmati alur cerita yang sungguh mentrenyuhkan ini kita ikuti file demi file yang berisi cerita tanpa cicir oleh Ki Narto Sabdho:

SUMONGGO

Awan Tag

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.