Sains, Teknologi, Seni dan Budaya

KNS_Bale Golo-golo

Nyuwun sewu sedayanipun..khususipun dumateng Pakdhe. Lampahan menika kula pasang ing mriki kanthi tujuan ngentheng2i sederek2 ingkang radi kerepotan menawi ngunduh saking sumber aslinipun: Pakdhe’s Site. Nanging kanthi rasa hormat lan mboten ngirangi kandungan ceritanipun kula nyuwun ijin Pakdhe mugi2 saged migunani tumrap sesami penggemar Ki Nartosabdho. File2 lakon menika sengaja kula pecah2 saking file aslinipun (per file sekitar 2.5 jam) dados alit-alit (per file sekitar 30 menitan) lan kanthi bitrate 32 kbps 22.05 Hz.

Isi carios meniko dipun wiwiti, awit ngemban amanah saking prabu Pandhu…Adipati Destarastra nggadahi pangajab bade maringaken nagari Astina dateng Pandawa….nanging awit paekanipun Sengkuni lan Kurawa….pangajab wau satemah gagar wigar tanpa karya. Menapa tha menggah ingkang dados penyebabipun….KULA KINTEN mas Jamansemana ingkang bade njlentrehaken…..matur nuwun.

Lha, menawi panjenengan sami bade mirengke saged ngunduh file3ipun wonten ING MRIKI

Lakon ini pernah diposting di wayangprabu.com namun lakon yang dipasang sekarang merupakan rekaman pentas langsung dari dalang kondang Ki Nartasabdha. Lakon ini merupakan hasil unduhan dari Pakdhe’s Site. Tapi karena banyak kendala untuk mengunduh dari website asli karena belum familiar….maka saya usahakan untuk ngunduh dan mecah2 file agar menjadi lebih kecil dan saya unggah ulang melalui MEDIAFIRE.COM
Lakon ini bila disimak tidak akan menyimpang jauh dengan rekaman studio tapi nuansa khas pentas langsung akan terasa sekali.
Ringkasan cerita sudah dikupas jelas di jamansemana.wordpress.com dan saya sengaja tidak membuat narasinya.

Untuk dapat menikmati lakon ini, panjenengan sami Saget mundut ing Mriki

KAS_Wahyu Trimarga Jaya

Lakon ini merupakan salah satu lakon wahyu yang dipagelarkan oleh dalang kondang dari Surakarta. Lakon ini merupakan garap klasik dan penuh dengan sindirin yang cocok untuk jaman sekarang (kata JamanSemana) lho….
Mungkin saya gak perlu menyampaikan narasi cerita ini…karena meskipun sudah sementara waktu saya unggah tapi karena kesibukan lain baru saya pasang di sini. Bagi anda yang ingin membaca narasinya….silahkan untuk melihat ke Blog Jaman Semana. Adapun sumber dari lakon ini merupakan sumbangan dari mas Santoso (Bandung/Jember).

Sedangkan untuk dapat menikmati alur ceritanya secara utuh monggo kula aturi mampir ING MRIKI

KAS_ Abimanyu Lahir

Lakon ini sumbernya masih sumbangan dari mas Santoso (Bandung). Lakon ini masih merupakan pakeliran klasik yang digarap dengan ke-khas-an sang dalang (Ki H Anom Suroto).
Jalan cerita singkat:


Adegan awal merupakan bentuk kebahagiaan dari tiga negri (Dwarawati, Mandura lan Amarta) karena Woro Subadra sedang mengandung anak pertama dan sudah menginjak umur 7 bulan yang sebentar lagi akan melahirkan seorang putra yang sangat dinantikan.
Namun, kedadak..negeri Dwarawati kedatangan musuh dari Plongkawati yang dipimpin prabu Joyo Murcito..yang ingin menjajah Dwarawati.
Namun meskipun mendengar berita tersebut, Werkudara tetap bertapa untuk mendapatkan wahyu Widayat. Setelah berhasil mendapatkan wahyu tersebut, Seno bermaksud menjenguk ke Madukoro untuk melihat anak Arjuna.
Setelah sampai di Madukara, alangkah sedihnya si Sena…ternyata wahyu yang didapat pindah ke anak Arjuna yang masih ada dalam kandungan. Dengan kejadian tersebut, Sena ingin mengangkat anak dari bayi yang dikandung Subadra….tapi Arjuna sangat tidak mengijinkan…sedih hati Werkudara. Dan setelah lahir anehnya si bayi nangis terus. Maka oleh kawicaksanan Sri Kresna, bayi diminta untuk dikasihkan Werkudara…dan Werkudara akan merawat dan menyusui sendiri. Saking sayangnya Werkudara, bayi tersebut dicarikan kerajaan yaitu kerajaan Plongkowati yang dpt direbut dan rajanya bisa dikalahkan Sena. Dan Plongkowati diberikan kepada anak Arjuna.

Nah untuk dapat menikmati cerita lengkapnya SILAHKAN MENGUNDUH DI SINI

Bentuk Pakeliran KNS

Sumber: http://staff.undip.ac.id/sastra/dhanang/2010/11/22/dari-pakeliran-adiluhung-ke-pakeliran-glamor-spektakulerpertunjukan-wayang-kulit-purwa-gaya-surakarta-dalam-perubahan-budaya/

Ki Nartosabdho (1925-1985) adalah seorang dhalang yang kali pertama melakukan semacam desakralisasi dan dekonstruksi pakem pedhalangan. Baginya pakem merupakan buku tuntunan bagi para siswa atau pemula yang ingin menjadi dhalang. Oleh karena itu, dengan berbekal kemampuan dan kreativitasnya, dhalang dapat menafsirkan kembali pakem sesuai dengan perkembangan zaman. Dalam pandangan Ki Nartosabdho, pakem tidak berbeda dari guide book atau texts book bagi para mahasiswa di perguruan tinggi yang mendalami ilmu tertentu; dan apabila telah menjadi sarjana mereka dapat mengembangkan ilmu yang dipelajarinya.

Pada awal kiprahnya sebagai dhalang, gaya pakeliran Ki Nartosabdho mengacu pada gaya pakeliran gurunya, Ki Pujo Sumarto. Dengan kata lain, pola pakeliran-nya pada saat itu masih lekat dengan pakem gaya keraton Surakarta (Sumanto, 2002: 58-59). Dalam unsur pakeliran tertentu, misalnya sanggit, ia juga mengacu pada gaya pakeliran Ki Wignyo Sutarno. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gaya pakeliran Ki Nartosabdho semula merupakan gabungan dari kedua dhalang tersebut.

Dalam perkembangan, sejak kemunculannya di Radio Republik Indonesia Jakarta pada 1958, Ki Nartosabdho telah menampilkan pakeliran yang berbeda, yaitu bentuk pakeliran yang bernuansa segar melalui berbagai pembaharuan yang dilakukannya. Ia meletakkan jembatan penghubung antara pakeliran gaya Surakarta dan Yogyakarta yang pada waktu itu sedang mengalami ketegangan kultural. Walaupun wujud pakeliran Ki Nartosabdho bertumpu pada gaya Surakarta, namun ia menggunakan pula unsur-unsur pedhalangan gaya Yogyakarta, misalnya dalam beberapa jenis sulukan, gendhing, dan keprakan. Ia juga memanfaatkan gendhing-gendhing dan garap karawitan dari daerah lain seperti Jawa Timuran, Banyumasan, Pasundan, dan Bali. Selain itu, ia memasukkan idiom-idiom gendhing bedhayan, musik keroncong, langgam Jawa, dan bahkan musik pop dangdut ke dalam garap karawitan[10] (Sumanto, 2002: 3; Murtiyoso, et al.., 1998: 29-32). Ia menggunakan janturan inkonvensional dan perwatakan tokoh-tokoh dengan penekanan pada dimensi kemanusiaannya (Wirosardjono, 1993: 67; Soemanto, 2002: 3).

Kemampuan Ki Nartosabdho dalam mengontekstualisasikan lakon baku dan carangan melalui penggarapan sanggit dan pemusatan ekspresi dalam dialog wayang (antawacana), dinilai oleh banyak kalangan pedhalangan dan masyarakat pecinta wayang telah berhasil memunculkan warna baru dalam dramatisasi pakeliran (Wirosardjono, 1993: 67; Soetarno, Sarwanto, dan Sudarko, 2007: 262). Dalam hal lakon, ia menciptakan lakon banjaran (biografi tokoh pewayangan) yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh para dhalang, misalnya: Banjaran Bisma, Banjaran Karna, Banjaran Bima, Banjaran Arjuna, dan Banjaran Gathutkaca. Ia juga menggubah lakon-lakon yang tidak lazim dipergelarkan dalam pakeliran wayang kulit purwa seperti lakon Sakuntala, Sawitri, dan Damayanti. Pola pengaturan panggung juga tidak luput dari jamahan perubahan. Pesindhen, yang pada umumnya berjumlah tiga orang dan duduk di belakang dhalang di samping pemain gender, pengrebab atau pengendhang, dipindahkan tempat duduknya ke sebelah kanan dhalang dan tetap menghadap ke arah dhalang (bandingkan dengan Sumanto, 2002: 4-5). Pembaharuan ini telah melahirkan seni pedhalangan yang oleh pengamat disebut dengan gaya Nartosabdho (Nartosabdhan).

Walaupun Ki Nartosabdho telah melakukan perubahan-perubahan pakeliran, namun menurut penilaian Murtiyoso (2007: 54), ia merupakan salah seorang dhalang maestro terakhir yang mampu menggarap pakeliran secara seimbang (ora bot sih) dengan empat bingkai yang telah disebut di atas, yaitu: moral, peribadatan, keindahan seni, dan hiburan. Banyak dhalang ingin mengikuti jejak keberhasilan Ki Nartosabdho. Namun akibat keterbatasan kemampuan, mereka pada umumnya hanya meniru humor (banyolan) saja; sedangkan aspek-aspek penting dari pakeliran seperti sanggit dan karawitan pedhalangan kurang mendapat perhatian. Kondisi itu menimbulkan keprihatinan di kalangan para pengamat seni pedhalangan, karena tidak ada keseimbangan antara aspek yang bersifat pokok dan yang bersifat teknis.

Menurut S.D. Humardani (1923-1983), yang menjabat sebagai Ketua Pusat Kesenian Jawa Tengah (1969-1983) dan Ketua Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta (1975-1983), situasi pakeliran pada dekade 1970-an dan 1980-an sangat mengkhawatirkan. Selain dipenuhi dengan “titipan” dari berbagai pihak, pakeliran pada periode itu juga dijejali dengan humor yang kurang relevan. Sebagai akibatnya, pakeliran (wadah) menjadi tidak sesuai dengan pesan pokok yang hendak disampaikan (isi). Kondisi itu menurut penilaian Humardani telah menyebabkan jagad pakeliran mengalami proses pendangkalan mutu yang kronis. Kritik terhadap pakeliran semalam suntuk itu kemudian memicu munculnya gagasan tentang pakeliran padat. Tujuan utama penggarapan pakeliran padat adalah untuk mengembalikan fungsi pokok pakeliran sebagai sajian estetis dan artistik. Pakeliran padat dengan demikian mengutamakan kesesuaian antara wadah/ bentuk dan isi dengan cara memaksimalkan kekuatan unsur-unsur garap pakeliran. Oleh karena itu, penggarapan pakeliran padat harus berpangkal pada tema dasar, garap lakon, garap adegan, garap tokoh, garap catur, garap sabet, dan garap karawitan pakeliran (Sudarko, 2003: 69).

Setelah pakeliran padat terbentuk, Humardani berusaha memperkenalkannya baik kepada kalangan dhalang, budayawan, maupun masyarakat pecinta wayang melalui forum sarasehan, lokakarya, lomba naskah, lomba penyajian pakeliran padat, dan siaran radio maupun televisi. Pakeliran padat tidak berpretensi untuk menggeser kedudukan pakeliran semalam-suntuk, melainkan untuk memperkaya kehidupan budaya. Bentuk pakeliran padat masih tetap menggunakan vokabuler-vokabuler pakeliran semalam suntuk, meskipun tidak harus selalu mengikuti secara ketat aturan-aturan yang digunakan dalam pakeliran tradisi, baik menyangkut aturan adegan, pathet, gendhing, maupun sulukan.

Setelah kemangkatan Ki Nartosabdho pada 1985, dengan mengambil inspirasi pembaharuan yang telah dilakukan oleh Ki Nartosabdho dan konsep-konsep pembaharuan tentang pakeliran padat yang digagas oleh Akademi Seni Karawitan Indonesia Surakarta di bawah kepemimpinan S.D. Humardani (1975-1983), Ki Manteb Soedharsono berusaha melakukan pembaharuan pakeliran. Untuk kepentingan itu ia membentuk tim kreatif yang terdiri atas seniman akademisi dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)—sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI). Dengan tidak mengabaikan garap pakeliran yang lain, misalnya sanggit dan iringan pakeliran, Ki Manteb Soedharsono dengan gemilang telah mampu menggeser peran bahasa dan antawacana dengan menekankan dimensi action dalam pergelaran wayang kulit purwa. Menurut pengakuannya, khususnya untuk sabet perang, ia mengambil inspirasi dari film-film Kung Fu. Berkat kemampuannya dalam olah sabet, Ki Mateb Soedharsono lalu mendapat julukan Maestro Sabet. Di tangannya pakeliran menjadi gegap-gempita sesuai dengan tuntutan zaman (Wirosardjono, 1993: 67; Abbas dan Subro, 1995: passim, Mrazek, 2005: 429-431). Sabet Ki Manteb Soedarsono kemudian menjadi rujukan para dhalang dari generasi berikutnya.

KAS_Lintang Trenggana

Lakon ini merupakan garapan klasik dari dalang tersohor di Jawa Tengah yaitu Ki H. Anom Suroto. Isi ceritanya seperti biasa merupakan cerita CARANGAN yang menyisip pada babon Mahabarata. Lakon ini merupakan sumbangan dari mas Santoso (Bandung) dalam bentuk pita magnetic. Kemudian pelan2 saya konversi ke bentuk digital (MP3).
Adapun isi ceritanya:

Diawali oleh keluhan Lesmana Mandra Kumara (anak Sri Duryudana) yang ingin memperistri seorang putri pedusunan yang bernama Endang Wandansari anak Resi Undhagan. Dalam kenyataan Endang wandan sari sudah bersuami yaitu Joyowiyogo. Dengan alas menyalahi aturan negeri Astina, yang menganggap sang Resi dedepok tanpa ijin maka harus diberi hukuman. Untuk bebas dari hukuman, resi Undhagan harus rela memberikan putrinya untuk dipinang Raden Lesmana.
Di sisi lain, untuk mempengaruhi Endang Wandansari agar mau dipinang dengan Lesmana, resi Undagan menyarankan untuk mencari orang pinter yang sakti. Dan akhirnya Resi Lintang Trenggana-lah yang kepilih untuk menjawab masalah tersebut. Dengan adiknya Sri Pamekak, Lintang Trenggana berangkat ke Astina dan juga diikuti Joyowiyoga.
Bertemulah di Astina, resi Undhagan dengan Lintang Trenggana, dan terjadilah selisih pendapat…..dan akhirnya babarlah cerita sebenarnya.

Pertanyaannya:
Siapa Resi Undhagan?
Siapa Resi Lintang Trenggana?
Siapa Sri Pamekak?
Siapa Joyowiyoga?

Dan Siapa pula Endang Wandansari?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, silahkan ngunduh file2nya DI SINI

Semar Kuning….setunggaling lampahan ingkang kagarap dening Ki Nartosabdho. mbok menawi saged kagolongaken carios Carangan, nanging ing wingking carios wonten pangandikane Ki Semar (Btr Ismaya) ingkang ngandika minangka hukumanipun dumateng Sri Kresna..dene Abimanyu lan Siti Sundari ing tembene mboten kagungan turunan. Lampahan menika ugi sampun nate dipun pasang ing WP, nanging rumiyin kualitasipun kirang sae lan mono lajeng kula convert dados pseudoStereo. Convert enggal menika sumberipun saking sumbangan mas Santoso (Bandung).

Dene isi cariosipun mekaten:

Ing Dwarawati, Sri Kresna nggadahi pangangkah bade malakrama-aken Siti Sundari kaliyan Abimanyu, nanging amargi Janaka nembe jengkar ingkang mboten pepoyan…lajeng penganten kekalih kadaupaken tanpa dipun tenggani Harjuna. Lha, ing mriki Sri Baladewa sangat mboten sarujuk, nanging Sri Kresna rumaos kuwaos lan minangka titising Sang Hyang Wisnu tartamtu bade kalis ing sambekala. Dumadakan, Ki Semar midanget babagan meniko sigra gupuh2 minggah ing paseban..lan caos pemut dumateng kalimpute Sri Kresna. Sri Kresna mboten rena penggalih lan duka, lajeng kuncung-ipun ki lurah Semar dipun kecohi dening sang Abimanyu…
Lha kados pundi saklajengipun carios menika:

Monggo KULA ATURI MUNDUT ING MRIKI

Awan Tag